Tahukah anda bagaimana awalnya orang cina menguasai Singapura ? baca sejarah.

DI INGATKAN TERUS AGAR TIDAK TERLAMBAT DAN JADI PENYESALAN DI KEMUDIAN HARI..!!






Pribumi Singapura Memberikan Kepemimpinan pada Lee Kuan Yew,  yang Akhirnya  Lee Kuan Yew berhianat ternyata dia Anti Islam & anti Melayu. silahkan anda baca sejarahnya buka mata dan hati anda, jangan jadi penghianat bangsa.

Di bawah ini adalah Yusuf Ishak, muslim melayu, Presiden pertama Singapura (1965-1970), kepala negara yang hingga kini semua gambar uang Singapura adalah gambar dirinya

Yusuf Ishak

Singapura, tanah melayu yang kini rakyat melayu tinggal di pinggiran dan banyak yang hanya bisa ngontrak, setelah orangtua mereka wafat, tidak mampu beli rumah. Karena persaingan bisnis yang ketat.

Lee Kuan Yee, melakukan segala upaya untuk mendapatkan jabatan. Mendekati komunitas pribumi (muslim melayu), melakukan banyak hal yang menguntungkan mereka, memakai Peci, sehinggalah kaum muslimin Singapura terpikat dan menjadikannya pemimpin.

Hubungan Lee Kuan Yee sangat dekat dengan para tokoh agama dan adat melayu. Seolah-olah mereka adalah bagian dari dia, dan dia bagian dari mereka:

DI BAWAH INI FOTO-FOTO LEE KUAN YEW SEBELUM BERKUASA
BETAPA DEKATNYA DIA DENGAN PENDUDUK PRIBUMI........

 Lee Kuan Yee dekat dengan tokoh agama

Lee Kuan Yee dicintai oleh rakyat muslim. Mereka menaruh kepercayaan seutuhnya, bangga dengan sosoknya yang tegas dan merakyat.
 Lee Kuan Yee dekat ambil simpati muslim

Raut wajah kebapakan yang meluluhkan hati.
 Lee Kuan Yee terlihat simpati


Senyumnya yang nampak tulus kepada anak-anak muslim, sering memberi santunan.
 Lee Kuan Yee peduli anak anak


Dielu-elukan para pendukungnya yang rela berkorban demi dia menuju tampuk kekuasaan.
 Lee Kuan Yee berhasil dipercaya


Sederhana dan merakyat, jangan ajari dia cara pencitraan:
 Lee Kuan Yee adegan pencitraan

Setelah berhasil menjadi penguasa seumur hidup di Singapura, menjelang akhir hayatnya dia mulai blak-blakan, anti Islam. Dia mengatakan semua agama dan suku bisa menyatu dan diterima di Singapura, kecuali Islam.
 Lee Kuan Yee nyatakan benci islam

Belakangan ia menguak bahwa dirinya selain anti Islam, anti pula ras melayu, yang notabenenya adalah pribumi Singapura.
 Lee Kuan Yee nyatakan benci islam

Dengan bangganya mengintervensi dan melanggar hak privasi warga negara, jika tidak melakukan itu maka Singapura tidak akan seperti sekarang, kata Lee.
 Lee Kuan Yee nyatakan benci islam

Di sisa umurnya, Lee menegaskan tidak seorang pun bisa menyakitinya lebih besar sebagaimana Lee bisa menyakiti mereka. Lebih dari itu, Lee Kuan Yee nyatakan tidak mungkin non-cina memerintah Cina, yang ada Cina lah yang memerintah non-cina.
 Lee Kuan Yee nyatakan benci islam

Populasi Penduduk RRC saat ini 1,3 Milyar orang  di banding Indonesia hanya 250 juta saja
Masa depan bangsa Indonesia bisa jadi ada di tangan anda, Jangan remehkan sumbangsih anda untuk anak-cucu yang nantinya bisa bernasib sama seperti muslim melayu, pribumi Singapura yang berhasil dikelabui, untuk dikuasai.

Ternyata Lee kwan yuu sangat anti Islam & anti Melayu
Ini Fakta Sejarah Singapura :
Tionghoa di Singapura ketika mereka minoritas mereka merayu pribumi, ketika mayoritas menindas pribumi.

sumber asli: kabari.us, repost dari posmetro.info




Inilah Nasip Etnis Melayu Singapura SAAT INI



BATAMTODAY.COM, Singapura - Etnis Melayu di Singapura adalah penduduk asli negara pulau tersebut. Namun, sebagai tuan rumah justru mereka "tak berdaya".
Dalam tulisan New Straits Times, Senin (19/8/2013), yang mengutip sebuah survei pada kebutuhan, keprihatinan dan aspirasi warga Melayu di Singapura, telah mengungkapkan adanya sikap sentimen terhadap kelompok minoritas tersebut.
Hasil survei selama enam bulan yang diumumkan ke publik bulan lalu, bercerita tentang nasionalisme, status mereka secara ekonomi, dan kepedulian sosial. Survei tersebut menunjukkan, bahwa orang-orang Melayu yang identik dengan etnis yang sangat mencintai budayanya, agama, dan negara, justru merasa tak sepenuhnya diterima sebagai bagian dari negara mereka sendiri. Termasuk minimnya partisipasi orang Melayu di Angkatan Bersenjata Singapura (SAF).
Diskriminasi di tempat kerja juga menjadi isu di kalangan masyarakat, yang pada beberapa pekerjaan membatasi perempuan Melayu mengenakan jilbab.
Survei sebanyak 70 yang dilakukan komite independen Suara Musyawarah itu juga mengungkapkan perasaan dikucilkan dari bagian "elit atau sensitif" SAF, seperti komandan, bagian persenjataan dan pertahanan udara, dan bahkan dikeluarkan dari kapal perang angkatan laut.
"Para partisipan mengatakan mereka tidak puas dengan satu atau dua anak Melayu untuk menunjukkan bahwa mereka dapat berkembang di SAF," kata Ketua Komite Suara Musyawarah, Sallim Abdul Kadir (57) kepada The Sunday Times (ST) Singapura, seraya menambahkan bahwa survei ini didasari pada anekdot dan perasaan dalam masyarakat tanpa statistik yang menyertainya.
"Rasa memiliki" masyarakat adalah satu di antara tiga tema utama yang ditemukan dari hasil survei. Survei ini dimulai tahun lalu ketika menteri yang bertanggung jawab Urusan Muslim, Yaacob Ibrahim, mengumumkan pembentukan sebuah komite untuk mendengar dari orang-orang Melayu di Singapura.
Yaacob sendiri diharapkan bisa mengomentari  hasil survei tersebut dalam pekan ini.
Kisah yang dimuat The Sunday Times - edisi mingguan dari The Straits Times - itu membandingkan hasil survei terhadap sensus 2010, yang menunjukkan bahwa etnis Melayu di Singapura tertinggal dalam hal kepemilikan rumah dan pendapatan rumah tangga. Hanya 5,1 persen dari populasi mahasiswa non-Melayu, berusia 15 tahun ke atas, memiliki gelar sarjana, jauh lebih rendah dari angka rata-rata nasional yang sebesar 23 persen.
Pendapatan rata-rata rumah tangga orang Melayu pada 2010 adalah S $3.844 (atau sekitar 31 juta rupiah), di luar kontribusi Central Provident Fund majikan mereka, lebih rendah dari rata-rata nasional sebesar yang S $ 5.000 (atau sekitar 40 juta rupiah).
Selain itu, kurang dari tiga persen rumah tangga Melayu di Singapura tinggal di rumah pribadi, dibandingkan dengan hampir 20 persen dari rumah tangga keseluruhan.
"Ketika orang-orang Melayu telah membuat kemajuan dalam pendidikan - banyak yang lulus dan mendapatkan nilai yang lebih baik di PSLE (Primary School Leaving Examination), level O dan A, misalnya - namun di banyak daerah masyarakat Melayu telah tertinggal di belakang," The Sunday Times melaporkan.
Sallim, yang memiliki pelatihan dan konsultan pengembangan, mendesak pemerintah untuk menghilangkan persepsi yang tercermin dari hasil survei jika percaya bahwa mereka tidak benar.
Sementara, Wakil Ketua Suara Musyawarah, Alwi Abdul Hafiz, mengatakan, kesetian masyarakat Melayu Singapura telah teruji dua dekade lalu ketika tetap mencintai Singapura daripada kepulauan Melayu (Malaysia).
"Sekarang, ada rasa kebangsaan dan rasa memiliki yang kuat terhadap Singapura, terutama di kalangan generasi muda. Masalahnya adalah, kita merasa bahwa loyalitas kita sedang dipertanyakan dan bahwa kita tidak dapat sepenuhnya dipercaya," katanya.
Survei juga menunjukkan bahwa isu "hak istimewa" untuk orang-orang Melayu - sebagaimana dijamin oleh Pasal 152 Konstitusi Singapura - hampir sulit terwujud.
Dalam status ekonomi, survei itu juga menunjukkan telah terjadi disparitas pendapatan dan minimnya mobilitas sosial. Kondisi ini diperparah oleh kecenderungan orang-orang Melayu yang anggota keluarga yang lebih besar.
Namun, meningkatnya kepedulian sosial di kalangan masyarakat telah menyebabkan lebih dari mereka "ingin membantu orang lain (untuk) memperbaiki kehidupan mereka". Banyak peserta mendesak afar pemerintah menggunakan gaya konsultatif untuk mengelola hal-hal kemelayuan.
Beberapa antara anekdot dari hasil "percakapan dengan masyarakat" ini antara lain:
Tenaga cleaning service, yang harus bersaing untuk mendapatkan pekerjaan dengan orang asing, beberapa di antaranya bersedia menerima S $ 450 (3,7 juta rupiah) per bulan untuk bekerja 18 jam sehari - sesuatu yang sulit dilakukan untuk menghidupi keluarga di Singapura.
Dua pengacara Melayu yang melamar pekerjaan - satu di sebuah perusahaan terkait dengan pemerintah dan yang lainnya di sebuah bank terkenal di Singapura - mengklaim aplikasi mereka ditolak karena ras, dan, 
Pengantar barang, yang telah menghabiskan enam bulan untuk mencari pekerjaan, harus menguasai bahasa Mandarin padahal pekerjaan tersebut (jasa pengiriman) tidak terlalu memerlukan komunikasi verbal. (*)
Editor: Dodo



 

Disingapura Orang Melayu sudah tidak aman berbicara Bahasa Melayu


 Etnis Melayu memang penduduk asli Singapura, akan tetapi di negeri itu mereka ”tidak berdaya.”
Sore yang cerah di awal Desember 2008, di kantor Association of Muslim Professional (AMP) di bilangan Pasir Ris, Singapura. Seorang sekretaris, perempuan Melayu tak berjilbab bernama Suziana menyambut ramah tanpa mengucap salam.
“Are you Surya from Jakarta?” tanyanya. Sejak kalimat itu terucap hingga kunjungan selesai, percakapan berlangsung dalam bahasa Inggris.
Kedatangan Suara Hidayatullah ke sana sore itu untuk membuat janji wawancara dengan salah seorang pejabat AMP, lembaga yang sudah 15 tahun berkiprah mengangkat derajat pendidikan dan keahlian kaum Melayu Islam Singapura ini. Suzi bilang, tidak ada pejabat yang bisa diwawancarai. Memang ada ketua divisi pemuda, Nizham. Tapi itu pun agak sulit ditemui, karena pria berumur 30-an itu juga sering keluar negeri mengurus bisnisnya.
Namun Suzi tetap bersedia mengurus waktu wawancara dengan Nizham atau pejabat lain yang kredibel. Sebagai syarat, Suzi mengatakan, wawancara dilakukan dalam bahasa Inggris. Dia bertanya apakah Suara Hidayatullah keberatan dengan hal itu. Suara Hidayatullah menjawab, tidak mengapa.
Lalu Suara Hidayatullah sempat bertanya, apakah Nizham bukan seorang Melayu? “He is a Malay. But he is not comfortable speaking in Malays,” terang Suzi lugas. Dia memang orang Melayu. Tapi dia tidak merasa nyaman berbicara dalam bahasa Melayu.
Di Singapura yang bekas jajahan Inggris, bahasa Inggris adalah bahasa resmi negara, pengantar di birokrasi, dan di fasilitas-fasilitas layanan publik. Sebenarnya, Singapura mempunyai empat bahasa resmi, yaitu Inggris, Mandarin, Melayu, dan Tamil. Walau menjadi bahasa nasional, bahasa Melayu hanya berlaku simbolis saja, hanya digunakan untuk menyanyikan lagu kebangsaan “Majulah Singapura” dan dalam kegiatan baris-berbaris tentara dan polisi. Sehingga praktis hanya kaum Melayu saja yang menggunakan bahasa rumpun ini untuk berkomunikasi. Masih beruntung, petunjuk di layanan dan fasilitas umum menggunakan empat bahasa; Inggris, China, Melayu dan Tamil.
Isi dialog dengan “Cik Suzie“ tadi cukup membuat dahi berkerut. Bagaimana tidak, kini ternyata sudah ada orang Melayu sendiri yang merasa tidak nyaman bercakap Melayu. Hingga, Nurdin, seorang Melayu asli Singapura yang menemani Suara Hidayatullah, juga merasa heran dengan kejadian tadi. Diulasnya kejadian tadi sejak masuk ke lift hingga ke dalam mobil. “Alamak! Harusnya tadi kau ajak dia interview dengan bahasa Arab,” seloroh Nurdin.
Melayu Dianaktirikan
Mayoritas penduduk negeri singa ini adalah etnis China, sekitar 77,3 persen. Sedangkan etnis Melayu hanya berjumlah 14,1 persen. Kecilnya persentase itu, turut memberi andil atas ketidak populeran bahasa mereka di negerinya sendiri.
Sifat ketidakpercayaan diri kalangan muda dari etnis Melayu terhadap identitasnya, juga menjadi salah satu faktor kemunduran mereka. Rendahnya kualitas pendidikan, ekonomi dan daya saing dengan etnis lain semakin membuat kaum Melayu tenggelam, sebagaimana disebutkan Muhammad Shahar, Manajer Sumber Daya Manusia di Association of Muslim Professional (AMP) kepada Suara Hidayatullah.
“Ketidakberdayaan“ etnis Melayu lebih lengkap dengan sikap pemerintah yang diskriminatif. Bagi pemerintah Singapura –yang didominasi etnis China– etnis Melayu Islam adalah bahaya laten bagi stabilitas negara. Ini bukan sekedar isapan jempol. Dua pemimpin anak-beranak Singapura, mantan PM Lee Kwan Yew (Mr. Lee) dan anaknya, PM Lee Hsien Loong dengan gamblang pernah menyatakan ketidakpercayaan mereka terhadap loyalitas etnis Melayu Islam.
Pada tahun 1999, Lee mengomentari sikap etnis Melayu Islam menyusul kedatangan Presiden Israel, Chiam Herzog ke Singapura tahun 1986. Lee mengatakan, dari polling yang diadakan pra dan pasca kedatangan Herzog, penolakan masyarakat Melayu Islam terhadap Presiden Israel tersebut meningkat tajam.
“Dalam beberapa hal, Melayu Singapura bereaksi berdasarkan dorongan identitas Melayu Muslim, ketimbang sebagai rakyat Singapura,” komentar Lee dalam wawancara di televisi sebelum acara audiensi dengan mahasiswa sebuah universitas tahun 1999 lalu.
Bahkan lebih jauh Lee mengatakan, “ … sebagai contoh, jika kamu menempatkan seorang Melayu yang sangat taat beragama (very religious, kata Lee) dan punya hubungan keluarga di Malaysia, untuk mengurus unit senjata mesin, itu hal yang sangat berbahaya,” ujarnya.
Anaknya, Lee “Junior”, seperti dilansir Far Eastern Economic Review, Asia 1998 Yearbook, pada Februari 1987 punya pandangan sama. Suatu ketika ia menjelaskan masalah tidak adanya etnis Melayu yang menjadi pilot pesawat tempur di Angkatan Udara Singapura. Katanya, tidak adanya pilot tempur dari etnis Melayu, karena (ajaran) agama mereka bisa bertentangan dengan pengabdian mereka kepada Singapura.
“ … that there are no Malay fighter pilots, for example, because their religion might conflict with their duty to Singapore.”
Akan tetapi, setelah pemerintah Singapura berhadapan dengan masalah yang mereka sebut terorisme, mereka menyatakan akan merangkul Melayu guna menghadapi problem ini. Kata Lee Hsien Loong, “Seorang Melayu sudah menjadi pilot pesawat tempur.“ Jadi, Melayu dirangkul jika dibutuhkan. *Surya Syahrizal/Suara Hidayatullah PEBRUARI 2009
Pendidikan Lebih Penting daripada Jilbab
Beberapa organisasi telah didirikan umat Islam guna “kemaslahatan“ umat, akan tetapi tetap tidak bisa lepas dari cengkraman pemerintah.
Sebagian warga Melayu menyadari, mereka harus segera bangkit dari keterpurukan. Sehingga pada tanggal 10 Oktober 1991, mereka mendirikan The Association of Muslim Professionals (AMP). Garapan utama lembaga ini adalah pendidikan, sumber daya manusia, pembangunan sosial dan penelitian.
Muhammad Shahar, pejabat AMP yang bertanggung jawab terhadap persoalan SDM, menyebutkan bahwa penyebab kemunduran Melayu adalah nostalgia masa lalu. Maksudnya, mereka menganggap bahwa Singapura ini tanah Melayu, maka ada hak-hak untuk orang Melayu.
“Jadi, kita harus melakukan tindakan sewajarnya untuk menghapuskan sebab-sebab tersebut,” tukasnya.
AMP sendiri, kata Shahar, sudah membuat banyak program, khususnya program peningkatan mutu pendidikan anak-anak Melayu Islam Singapura. Setiap tahun AMP menolong lebih dari seratus keluarga, yang didalamnya terdapat dua hingga empat anak yang dibiayai pendidikannya oleh AMP. Dari sekolah dasar, bahkan hingga universitas.
Biaya operasional AMP yang cukup besar, kata Shahar, selain didapat dari para donatur dan kursus-kursus, juga datang dari pihak pemerintah Singapura. Setiap tahun pemerintah memberi dana yang tidak sedikit, yakni mencapi 1 juta dolar Singapura atau sebesar 7,4 miliar rupiah. Bahkan, kata Shahar, pemerintah juga menanggung biaya sewa ruang tiga lantai di gedung Community Center Pasir Ris, Drive 4, sebagai kantor AMP.
Selain itu, AMP juga mendapat amanah khusus dari Majlis Ugama Islam Singapura (MUIS) untuk mengadakan kursus dan konseling pra nikah bagi para calon pasangan Muslim. Tanpa sertifikat kelulusan dari AMP ini, calon pasangan Muslim tidak akan mendapat izin menikah dari MUIS, yang merupakan badan resmi negara untuk urusan masyarakat Islam di Singapura. Shahar menjelaskan, ketatnya syarat nikah ini disebabkan tingginya angka perceraian di antara pasangan etnis Melayu.
Ifthar bersama Yahudi
Untuk mempererat interaksi dengan kemunitas lain, AMP berinisiatif menyelenggarakan acara buka puasa (ifthar) bersama para peserta pertukaran pelajar Israel pada Ramadhan lalu. Acara yang didukung oleh Kedutaan Besar Israel untuk Singapura ini, kata Shahar, bertujuan menciptakan sikap saling memahami dan menghormati antara Islam dengan Yahudi.
“Karena yang diketahui tentang Yahudi hanya perang saja. Apa sebabnya? Tidak tahu,” katanya. Malahan, kata Shahar, para pelajar Israel tersebut pun menentang pemerintah mereka sendiri. “Kenapa harus berperang?” ujar Shahar menirukan sebagian perkataan pelajar Israel.
Shahar menambahkan, selepas pertemuan tersebut AMP juga akan mengadakan dialog lanjutan, atau bahkan program pertukaran pelajar.
Dalam acara yang dihadiri Duta Besar Israel untuk Singapura, Ilan Ben-Dov ini, Israel juga membawa penceramah Muslim dari Tel Aviv. Shahar mengaku, dirinya juga menyampaikan keberatan akan aksi penjajahan Israel terhadap bangsa Palestina. Tapi Sang Dubes hanya mengatakan, “Kita hanya mengikuti sejarah.” Yakni mengambil tanah yang dijanjikan untuk orang-orang Yahudi.
Pro Pemerintah
Untuk mengurusi hal-ihwal Islam di Singapura, pemerintah Singapura mendirikan MUIS pada tahun 1968. Badan resmi milik negara ini wewenangnya menyangkut pengawasan terhadap masjid-masjid, kurikulum pendidikan agama, pernikahan, zakat, kurban, sertifikasi halal, dan lain sebagainya. MUIS juga mengawasi khutbah Jumat di setiap masjid untuk memastikan isi khutbah sesuai dengan konsep negara Singapura yang majemuk. Para penceramah yang datang dari luar pun diwajibkan mengurus izin ceramah kepada MUIS, sebelum mereka bisa berceramah di Singapura.
Pada kenyataannya, MUIS adalah alat negara, yang harus tunduk sepenuhnya kepada wawasan, misi, dan dasar-dasar negara Singapura. MUIS sepenuhnya dibiayai oleh negara. Bahkan para pejabatnya, termasuk mufti negara diangkat oleh Presiden Singapura yang non-Muslim. Hal serupa juga terjadi pada para anggota parlemen Muslim Singapura (MP).
Zulfikar Mohammad Shariff, aktivis Muslim dan pengelola situs advokasi Islam di Singapura, Fateha.com, mengatakan MP telah gagal membuktikan diri sebagai perwakilan Muslim di Parlemen Singapura.
“Saya sudah tidak lagi menyebut mereka (MP) perwakilan Melayu Muslim. Saya menyebut mereka explainers of government policies (EGP), para penjelas kebijakkan pemerintah,” ujarnya.
Istilah EGP tersebut dinyatakan Zulfikar di salah satu surat kabar Malaysia, menyusul debat soal isu rencana penutupan madrasah oleh pemerintah Singapura. Katanya, “Bukannya mewakili aspirasi kita (Melayu Muslim), mereka malah mendatangi kami untuk menjelaskan alasan pemerintah mengeluarkan rencana itu.”
Saat kasus pelarangan jilbab di sekolah umum tahun 2002, Zulfikar juga aktif melakukan pembelaan melalui situsnya yang kini telah diberangus oleh pihak pemerintah Singapura. Kala itu, dua anak perempuan Muslim dilarang memasuki sekolah karena menolak untuk melepas jilbab selama jam belajar. Pihak pemerintah beralasan, pelarangan jilbab di sekolah umum bertujuan untuk menciptakan suasana harmonis antar agama dan etnis di lingkungan sekolah.
Berbeda dengan para aktivis yang memilih berhadapan dengan PM Singapura saat itu, Goh Chok Tong, MUIS malah mengatakan pendidikan lebih penting dari pada tudung (jilbab). Presiden MUIS, Maaruf Salleh mengatakan, dia telah berkonsultasi dengan otoritas Islam tertinggi Singapura, Mufti Syed Isa Semait. Hasilnya, mufti mengatakan, “Aturan larangan tudung cuma berlangsung beberapa jam ketika murid-murid berada di sekolah. Pendidikan lebih penting.”
Terkait dengan masalah ini, Suara Hdayatullah sudah berusaha mewawancarai pihak MUIS. Sayangnya, pihak MUIS mengatakan, tidak ada satu pun pejabat MUIS yang bisa diwawancarai karena sedang melaksanakan ibadah haji. Kemungkinan wawancara baru bisa dilakukan pada Januari 2009. Ketika di Jakarta, Suara Hidayatullah berusaha melakukan kontak dengan MUIS via telepon. Namun belum juga ada pejabat MUIS yang bisa diwawancarai. *Surya Fachrizal/Suara Hidayatullah PEBRUARI 2009

Balada Ustadz Latif
Diusir dari negerinya sendiri. Menolak direkrut jadi intel
Namanya Harun bin Embong atau lebih dikenal dengan panggilan Ustadz Latif. Ia seorang dai Persatuan Muhammadiyah Singapura. Tapi kemudian diusir dari Singapura dan dicekal seumur hidup (permanent banned) oleh pemerintah Negeri Singa itu.
Menurut keterangan sejumlah warga Muhammadiyah Singapura, Latif diusir karena dakwahnya dinilai terlalu keras. Memang, ia dikenal tak mau kompromi bila bicara soal akidah.
Latif sendiri mengaku tidak pernah memprovokasi umat agar memberontak kepada pemerintah. Dalam dakwahnya, dia hanya mengajak umat memegang akidah dengan kuat meski berada di dalam negara sekuler yang dipimpin seorang non-Muslim. “Saya jelaskan al-Maghdhub (golongan yang dimurkai Allah Subhanahu wa Ta’ala) adalah Yahudi, dan adh-Dhaallin (golongan yang sesat) adalah Nasrani. Rupanya penjelasan ini meresahkan pemerintah,” ujarnya mengenai tafsir ayat terakhir surat al-Fatihah.
Pada tahun 70-an, Latif kerap diinterogasi aparat intelijen. Namun itu tak membuatnya kapok. Pada tahun 1979, dia dikenakan status cekal permanen dari pemerintah Singapura. “Nggak bisa masuk Singapura nggak apa-apa. Singapura bukan Tuhan saya,” sergahnya.
Latif kemudian memilih Johor, Malaysia sebagai tempat tinggalnya yang baru. Di sini, ia tetap bisa menjalankan dakwah, sekalipun pada awalnya sempat ditahan oleh pihak keamanan Malaysia karena tidak mengantongi surat izin sebagai penceramah.
Untuk menghidupi keluarganya, dia berbisnis pohon bonsai. Di belakang rumahnya terdapat puluhan bonsai hasil karyanya sendiri dengan berbagai ukuran dan jenis. Pohon-pohon tersebut dijualnya dengan harga ratusan hingga ribuan Ringgit Malaysia.
Pada awal tahun 2000-an, Latif mencoba kembali ke Singapura. Lolos. Bukan hanya sekali, bahkan beberapa kali. Namun pihak imigrasi Singapura, Immigration and Checkpoints Authority (ICA) akhirnya sadar telah berkali-kali kecolongan. Latif pun kembali berhadapan dengan petugas yang dahulu mencekalnya. “Padahal dia (aparat yang mencekalnya) sudah pensiun. Dia sengaja dipanggil untuk kembali menangani saya,” terang Latif.
Setelah sebulan dalam tahanan Singapura, Latif dipulangkan ke Johor. Dengan tangan terborgol, dia dijemput pihak Security Branch (SB) di perbatasan Singapura-Malaysia, untuk dibawa dan ditahan selama dua bulan di Kuala Lumpur. Dia mengaku sempat ditawari menjadi agen intelijen oleh SB. Namun kader dari pencetus dakwah kampus Indonesia, Imaduddin Abdulrahim (Bang Imad) ini, dengan tegas menolaknya.
Pria yang lahir di Terengganu Malaysia sekitar 63 tahun lalu ini menyitir perkataan Waraqah bin Naufal kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was sallam (SAW) saat pertama kali mendapat wahyu, “Tidak ada seorang pun yang membawa seperti yang engkau bawa (dakwah tauhid) melainkan akan dimusuhi dan diusir oleh kaumnya.”
“Jadi ini hal biasa sebenarnya. Siapa pun yang membawa kebenaran, berpegang kepada al-Qur`an dan as-Sunnah dengan jujur dan tulus, dia pasti akan diuji. Ujian pertama kali yang tidak bisa kita elakkan datang dari penguasa,” jelas Latif yang mengaku sempat menjadi murid ulama terkemuka Muhammadiyah, Buya Malik Ahmad ini. Semoga Ulasan ini Bermanfaat.
 *Surya Fachrizal/Suara Hidayatullah PEBRUARI 2009